Posts

Memigrasikan Indonesia

Mengindonesiakan Dunia! Saya lagi2 takjub, hampir selalu ada orang India atau Pakistan di setiap kota yang saya singgahi selama saya merantau di Australia ini. Ketakjuban saya adalah terhadap kepercayaan diri mereka menjelajahi dunia guna mengais rejeki. Tanpa mengesampingkan sejarah, saya tahu ada sebagian orang Jawa yang bisa kita temui jejaknya di negeri2 lain, seperti malaysia, Singapura, Afrika Selatan, Belanda, atau Suriname, namun bagi saya itu masih kalah dibandingkan kedua bangsa tadi. Orang Jawa bertebaran di negara2 yang sudah saya sebut namanya karena dua hal. Sebagian memang karena mereka merantau, dan sebagian besar mereka meruoakan laki2, sementara sebagian lagi merupakan keturunan pekerja Jawa yang dibawa penjajah Belanda ke tanah koloni2 lain. Lain halnya dengan orang India atau Pakistan (saya tak menyebut orang Cina karena terlalu umum) mereka pergi merantau bersama keluarganya, memang tidak semua, namun tetap saja angka mereka besar dan fakta inilah yang menjadikan m...

Melihat Agnes Monica Mendewasa

Saya berdesir saat Sujiwo Tejo mengunggah video ia dan Agnes Monica bernyanyi langgam Jawa di twitter. Penyanyi berusia 34 tahun itu Juga terbahak2 saat Sujiwo Tejo mengatakan, Agnes tidak berdarah Indonesia melainkan berdarah Jawa. Terpikir, 10 tahun lalu apakah nona keturunan Tionghoa ini mau menyanyikan lagu jenis demikian? Kesimpulan saya, Agnes kini tampak mengendur dan membumi karena ia dalam proses pendewasaan ini. Dan salah satu hal yang mendasarinya adalah keterpukulan. Saya kira keterpukulan merupakan hal yang menentukan dewasanya seseorang. Ia akan menjadi lebih bijak dan memahami keadaan saat pengalaman batinnya menghebat. Persis seperti cerita saya sendiri dulu, yang saat muda emoh mendengarkan lagu2 dangdut, India, atau campur sari. Alasannya ya karena lagu2 jenis itu tidak keren di mata saya. Kala itu saya berambisi menjadi musisi/wartawan musik top yang rujukan lagu2nya adalah musik dari luar negeri. Beda ceritanya pada hari2 ini, ketika saya lebih bertoleransi terhadap...

Satu di Antara Mimpi2 Saya: Mengembalikan Kebesaran Bahasa Jawa

Scripta manent verba volant Kegelisahan hati sejak lama membuncah setiap mendengar pitutur dari bahasa latin tersebut. Sebagai putera asli Jawa saya berangan2 bahasa ibu saya ini bisa lestari turun temurun ke anak, cucu, buyut, canggah, wareng, udhek2, gantung siwur, gropak senthe, debog boaok, galih asem dst. Semua orang tahu semakin ke sini penutur bahasa Jawa semakin terkikis jumlahnya. Perkembangan jaman dan majunya tekonologi membuat bahasa Jawa semakin ditinggalkan lantaran penuturnya lebih memilih kemindon dan keminggris. Meski sedikit terselamatkan dengan adanya kesadaran berbahasa Jawa dari segelintir kalangan muda dan tokoh2 semacam Sujiwo Tejo, bahasa Jawa selebihnya hanya dikenal sebagai bahasa verbal, bukan bahaaa tulisan. Saya jarang sekali mendapati adanya buku bacaan atau situs berita yang menggunakan bahasa Jawa. Padahal penutur bahasa ini masih besar dan suku Jawa pun menjadi suku terbesar di negeri ini. Pertanyaan saya, akan sampai kapan bahasa Jawa bertahan...

Merasa Tak Ikhlas Beribadah? Jalan Terus!

Pernahkah terlintas dalam benak kita, mungkinkah berdoa, sembahyang, atau berzikir kepada Allaah tanpa ada embel2 duniawi di sebaliknya? Mungkin ada beberapa dari pembaca blog sederhana saya yang budiman yang pernah mendengar nama dan kisah Rabiah al Adawiyah? Sufi wanita mahsyur ini dikenal akan kecintaannya yang luar biasa terhadap Sang Pencipta. "Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut neraka Bukan pula karena mengharap masuk surga Tetapi aku mengabdi, Karena cintaku pada-Nya Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi padaku" Puisi di atas merupakan sepenggal dari puisi2 terkenal gubahan Rabiah kepada Sang Khalik. Soal tidak ikhlas dalam ibadah ini dan sering malu jika mengingatnya. Saya malu karena saya tampak tidak ikhlas melakuk...

Tentang Suami Yang Merindukan Pulang #2

Fi.. Apa salahku memakai kamu sebagai orang kedua jamak Kukira semua orang pun mengetahui, bau tanah Pakintelan selepas diguyur hujan adalah sesuatu yang mencandukan Aspal Ungaran yang mengepul tipis2 tak lama setelah matahari menghangatkan pemukaannya yang lembab Semua itu tak terganti, ada sensasi tersendiri saat kamu menikmatinya bersamaan dengan kerlingan benak kepada harapan Istana dari tatanan bata2 berwarna kelabu, yang diadon dengan rasa hormat untuk tetangga baru dari Pak rohim dengan atap genteng berkerangka galvalum yang timpang di bagian belakang Ada yang lucu di sana, tapi rinduku lebih pekat Fi.. Kuingat saat malam2 kau mendadak terjingkat2 Seekor kucing mengeong di pintu depan meminta masuk dari halaman yang ditumbuhi belukar dan tanaman2 Aku tertawa, berderai2 Tak pernah lagi kulihat rusa, yang kuceritakan padamu ia mungkin lari dari belantara Dan kau berkata menimpali, kamu hidup di Oklahoma Fi.. Pak Gik dan nasi kucingnya itu nolstalgik Kali di si...

Tentang Suami Yang Merindukan Pulang

Apa yang kaudambakan dari musim hujan? Ada bulir2 kenangan menetes di sepanjang jalan Salatiga-Watusari, rindu2 tak terperi Emak, Bapak, sanak, kerabat, di benak ini semua melekat, erat Jarot, Eko Sus, Yulianto, Pak Edi dan semua pejuang waktu Sama2 dulu berjuang demi sebaris berita, tentang cerita di seputar wilayah selatan ibukota Juga rumah kita yang sederhana, yang kita raih dengan tetes keringat, darah, dan air mata Bawalah makan, Mas, sms-mu terbaca Kubelah Ungaran dan sebungkus nasi ayam penyet yang kubeli di tepi Sumurjurang Bergoyang2 gontai di setang motor yang membawaku pulang Kau pernah mengeluh, sebab di setiap pagi yang sejuk selepas subuh Aku membeku di tepi meja, menancapkan pandangan pada lembaran2 yang hati2 kueja Malam2 dingin di Semarang di antara Desember dan Januari 2014 janganlah kau beranjak dan berlari Dari sana kita mulai menapaki janji2, cita2 untuk hidup mandiri Satu setengah tahun sudah aku menjauh Menepi di utara Australia yang panas p...

Sertifikasi Halal Janganlah Dihapus

Sertifikasi halal konon diwacanakan untuk dihapus, akan disayangkan sekali. "Beberapa tahun ke depan mungkin saya akan pindah, ke Malaysia atau Indonesia. Saya ingin hidup tenteram menjalani kewajiban sebagai muslim di sana, karena banyak masjid dan makanan halal, tidak seperti di sini," demikian uraian Muhammad Abdul Aziz, kawan kuli seperjuangan di kebun kopi milik keluarga Murat. Muhammad (sebagai mana ia biasa dipanggil) adalah seorang pendatang asal Uzbekistan yang tinggal di Mareeba, Queensland Utara Jauh, dan bekerja sebagai buruh tani. Kami beberapa kali bekerja bersama, dan datang menghadiri ibadah di masjid bersama. Impian Muhammad untuk tinggal di negara muslim dengan alasan demi mudahnya mendapatkan makanan halal sangat beralasan. Di Australia, negara kelahiran isteri Muhammad, mendapatkan makanan atau bahan makanan halal tidak semudah di Indonesia. Kita harus memastikan ada label berwarna hijau pada plastik atau mika pembungkus daging. "Jika warnanya merah m...