Posts

Merdeka Yang Tak Merdeka

Orang bilang, kita bangsa Indonesia memiliki kedaulatan mutlak dalam memberi nama anak. Tidak ada yang paten, yang harus kita patuhi dalam memutuskan apa nama yang baik untuk anak kita. Beberapa orang memberi nama anak-anak mereka dengan nama barat. Terlepas dari ketentuan memberi nama baptis di kalangan nasrani, tapi pemberi nama barat ini pernah dan masih menjadi kecenderungan bagi sebagian besar para orang tua di Indonesia.  Beberapa lainnya memberikan nama Arab, terutama para orang tua muslim yang ingin anaknya tumbuh besar menjadi seorang yang saleh atau salehah. Tren nama Islami atau Arab ini semakin menjadi-jadi dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan nama-nama yang di tanah Arab sendiri tidak dipakai. Tentu dengan sentuhan barat dalam penulisan Latinnya: Nazneen, Ameera, Shaqeena, Noura.. Dulu ada seseorang saya kenal yang ketiga anak pertamanya diberi nama barat. Lahirlah anak keempat dan ia berikan nama Wisnu. Alasannya sudah tiga orang bernama barat, yang berikutnya harus ...

Thenguk-thenguk

"Kamu cuma perlu mencari pelanggan beberapa waktu, setelah dapat dan barang kamu stok berkala, nanti di rumah kamu tinggal thenguk-thenguk." Kalimat melegakan tentang enaknya berwira usaha tergulir dari seorang kawan suatu waktu.  Siapa orangnya tidak mau dapat duit secara rutin sambil menjalani hidup santai? Sayang sekali cerita indah semacam ini hanya ada dalam novel2 atau kisah2 motivasi.  Kenyataannya, sebagaimana saya jalani selama beberapa bulan terakhir, kamu harus bekerja banting tulang memperkenalkan daganganmu. Ketelatenan dalam meraih pembeli pertama agar kemudian menjadi pelanggan tidak bisa diselingi leha2. Thenguk2 hanya membuatmu terlena dan mandek secara kreativitas. Saya sendiri sedari awal tidak setuju dengan premis kawan saya itu. Bagi saya thenguk2 adalah mentalitas khas orang RI yang serba santai. Bagi saya, menggantang harapan menjadi pengusaha sukses dan menjalani hidup ala sultan tidak bisa dilakukan bersama. Harus ada yang ditiadakan salah satu. Kemar...

Onggrongan

"Onggrongan.." celetukan seorang teman menimpali percakapan saya dengan seorang kawan lain. Bukan tanpa maksud ia menimpali demikian, sebab dia tahu betul dua orang yang sedang bercakap2 itu merupakan penutur asli kata yang bermakna berlebih-lebihan itu. Onggrongan, kata ini dituturkan oleh masyarakat pantura plat g dari Pekalongan hingga Tegal dan sekitarannya. Tentu ada sebab mengapa suatu bisa sampai muncul dan digunakan oleh suatu kelompok masyarakat. Dan teori saya, kata onggrongan ini muncul karena keadaan sosiologis masyarakat pantura. Jauh dari ingar bingar keraton membuat kawasan di tepi laut Jawa bagian tengah ini tidak begitu dilirik. Tanpa adanya perhatian itulah mentalitas orang pantura di kawasan eks karesidenan Pekalongan terbentuk. Mereka cenderung mencari perhatian. Bagi orang2 yang besar di kawasan ini tentu tahu benar tabiat onggrongan. Pelakunya akan melakukan apa saja untuk mendapatkan perhatian, tertawaan, sampai cemoohan. Saya pernah menyaksikan...

Pake Make

Apa panggilan kalian untuk orangtua? Saya sejak kecil menyebut ibu bapak dengan make pake. Seksi bukan? Tumbuh di lingkungan kelas pekerja, hampir tidak ada anak2 dari keluarga buruh yang memanggil orangtuanya dengan bapak ibu, ayah bunda, apa lagi papa mama. Segelintir saja bisa didapati kawan yang memanggil ibu bapak, dan itu biasanya mererek dari kalangan pegawai negeri sipil. Banyak kawan merasa gengsi dengan ini, sehingga mereka memilih menyebut kata bapak ibu saat bercakap2 dengan teman dari luar daerah. Saya sih santai2 saja, menurut saya tampang dan latar belakang saya dan kami orang Comal tidak cocok untuk memunculkan sosok bersapaan bapak ibu papa mama. Memakai pake make, maka itu sudah cukup menunjukkan jatidiri kami. Namun sayang, semakin ke sini semakin kecil kesadaran orang untuk menggunakan pake make untuk memanggil orang tua. Para orangtua dari generasi yang lebih muda cenderung memilih ayah bunda dan papa mama, termasuk bapak ibu yang jumlahnya juga semakin sed...

Tips Membaca Seperti Hatta

Hari ini saya diliburkan. Pagi2 sekali bos menelepon dan bilang jadwal membungkus kopi diganti Selasa besok karena ada masalah pada mesin. Posisi saya sudah siap, rapi, bekal sudah masuk tas, terpaksa batal berangkat. Saya putuskan untuk melanjutkan kegiatan membaca, yang sudah saya lakukan lepas subuh. Namun bedanya, kegiatan membaca berbeda karena saya memakai celana panjang tebal dan kemeja flanel lengan panjang. Saya merasakan hal lain, gairah saya berbeda. Biasanya saya membaca sambil memakai sarung atau celana kolor pendek. Sambil tiduran atau klekaran. Namun kali ini saya putuskan membaca sambil duduk. Alat pencatat yang saya siapkan pun berguna karena antusiasme saya mengaktifkan daya tangkap otak saya lebih lekas dan gegas. Saya suka mencatat kalimat2 yang saya baca, jaga2 kalau ada gagasan penting yang bisa saya pakai untuk bahan tulisan atau jadikan pegangan hidup. Lalu teringatlah saya dengan kalimat seseorang, yang mengatakan Bung Hatta, salah satu proklmator kemer...

Mimpi Buruk Bangsa Keminggris

Dua minggu lalu, dunia hiburan di Tanah Air digegerkan dengan kematian seorang pemeran laki2 yang cukup terkenal lantaran sebelumnya ia beristrikan seorang bintang masyhur. Dalam suasana duka, seorang sahabat dari sepasang suami istri artis itu bercuit di twitter, ia tak bisa berkata apa2 saat sahabatnya mengungkapkan isi hati setelah kepergian sang suami, “It is like a nightmare, but it is real.” Dalam keadaan belasungkawa, saya membaca cuitan itu dengan hati masygul. Dengan suasana hati yang demikian berduka si artis masih sempat berbahasa Inggris, bahasa yang bukan bahasa ibunya. Mungkin saja ia berbahasa Inggris dengan almarhum suami dan anak, namun yang membuat saya takjub adalah betapa bahasa Inggris sudah merasuki alam bawah sadar manusia Indonesia, paling tidak mereka yang hidup di kota besar. Saya sangat rewel dengan urusan keminggris ini, sebab bahasa Indonesia adalah benteng terakhir harga diri bangsa Indonesia. Andai saya boleh dan mungkin, saya akan memaki atau paling tida...

Memigrasikan Indonesia

Mengindonesiakan Dunia! Saya lagi2 takjub, hampir selalu ada orang India atau Pakistan di setiap kota yang saya singgahi selama saya merantau di Australia ini. Ketakjuban saya adalah terhadap kepercayaan diri mereka menjelajahi dunia guna mengais rejeki. Tanpa mengesampingkan sejarah, saya tahu ada sebagian orang Jawa yang bisa kita temui jejaknya di negeri2 lain, seperti malaysia, Singapura, Afrika Selatan, Belanda, atau Suriname, namun bagi saya itu masih kalah dibandingkan kedua bangsa tadi. Orang Jawa bertebaran di negara2 yang sudah saya sebut namanya karena dua hal. Sebagian memang karena mereka merantau, dan sebagian besar mereka meruoakan laki2, sementara sebagian lagi merupakan keturunan pekerja Jawa yang dibawa penjajah Belanda ke tanah koloni2 lain. Lain halnya dengan orang India atau Pakistan (saya tak menyebut orang Cina karena terlalu umum) mereka pergi merantau bersama keluarganya, memang tidak semua, namun tetap saja angka mereka besar dan fakta inilah yang menjadikan m...